30
SEP
2015

Youth Interfaith Camp 2015: Bhinneka Itu Aksi

Para peserta dan panitia Youth Interfaith Camp 2015

Para peserta dan panitia Youth Interfaith Camp 2015

LEMBANG-Sejumlah 82 orang pemuda-pemudi berbagai agama mengikuti Youth Interfaith Camp (YIC) di Pondok Lembang. Acara tersebut digelar oleh Jaringan Kerja Antar Umat Beragama (Jakatarub), Deklasi Sancang, Universitas Maranata, Gereja Pasundan Sinode dan Gereja Klasis Bandung dengan akademisi Aceh, Rosnidar. Menurut Ketua Pelaksana, Obertina Johanis, banyaknya perbedaan yang ada di Indonesia, namun dapat menjalin kesatuan atas perbedaan yang ada.

“Ruang perbedaan tersebut perlu dibangun serius dan terciptanya relasi yang akrab,” ucapnya kepada Jakatarub, Minggu (27/9) setelah selesai acara.

Dia menjelaskan, setelah acara selesai, diharapkan para peserta menjadi teman karib dalam bingkai kebangsaan yang satu. Sehingga, diambil tema membangun negeri 1000 sahabat. Relasi persahabatan bisa menjadi pola hidup para anak muda. Bahkan, bisa menjadi identitas bangsa dan negara.

Obertina menurutnya, pola hidup seperti itu harus terus diperjuangkan, untuk menggapai cita-cita bangsa Indonesia, yaitu satu, rukun dan damai. Hal tersebut menurutnya sudah terpatri dan ditunjukan oleh para pendiri bangsa. Akan tetapi, seiring berjalannya waktu budaya persahabatan bangsa indonesia memudar.

“Penyebabnya dari berbagai faktor. Baik di dalam maupun diluar Indonesia, sehingga, untuk menumbuhkannya kembali harus sering dibuat ruang perjumpaan,” katanya.

Selain mengembalikan kesadaran persahabatan, dalam kegian ini memberikan perspektif kebangsaan dalam diri pada para pemuda lintas iman. Serta, menjadi generasi produktif untuk menyeruakan perdamaian dan keadilan. Para peserta juga melakukan kunjungan ke tujuh rumah ibadah yang ada di Bandung. Hal tersebut agar terbangunya sikap saling menghargai dalam perbedaan.

Di tempat yang sama, Koordinator Jakatarub, Wawan Gunawan menjelaskan di Jawa Barat ada sekitar 90 perda yang diskriminatif. Termasuk di dalamnya tentang keberagaman. Serta ada banyak kasus kekerasan dalam beragama, seperti pembakaran rumah ibadah dan pembantaian. Para pelakunya tidak mendapatkan ganjaran yang setimpal.

Dalam UUD, sudah jelas diatur setiap warga negara bebas memeluk agama dan kepercayaannya masing-masing. Akan tetapi, setelah tahun 2002, ada banyak tindak kekerasan yang terjadi dan pemerintah seakan tutup mata. Artinya, saat ini pemerintah sudah tidak lagi menghargai perbedaan.

“Padahal perbedaan yang ada jangan sampai menghalangi perdamaian,” katanya.

Perbedaan yang ada, menurutnya harus menjadi kekuatan untuk menjadi kesatuan. Bahkan Indonesia sendiri menyusung, Bhinneka Tunggal Ika yang artinya walaupun berbeda-beda tetapi tetap satu. (Nita Nurdiani)