17
JUL
2015

Pernyataan Sikap JAKATARUB Terkait Insiden Shalat Ied dan Pembakaran Mushala di Tolikara

Pernyataan Sikap JAKATARUB Terkait Insiden Gangguan Pelaksanaan Shalat Ied dan Pembakaran Sejumlah Rumah serta Mushala di Karubaga, Kab. Tolikara, Papua, Jumat 17 Juli 2015

Di hari Idul Fitri kali ini, Jumat 17 Juli 2015, sekelompok orang telah melakukan tindakan inkonstitusional dengan membubarkan kegiatan shalat Ied di Lapangan Koramil Karubaga, Tolikara, Papua. Tindakan brutal tersebut diikuti dengan pembakaran sebuah mushala serta sejumlah rumah di sekitar lokasi kejadian. [Salah satu beritanya di: http://news.metrotvnews.com/read/2015/07/17/148328/saat-imam-takbir-pertama-sekelompok-orang-datang-dan-lempari-musala-di-tolikara].

Peristiwa ini sangat disayangkan mengingat selama ini masyarakat Papua telah mengalami sejumlah konflik berdarah yang menewaskan ratusan warga. Namun justru yang jadi kekuatan selama ini, masyarakat Papua, khususnya Kab. Tolikara, tidak pernah bentrok terkait masalah agama.

Patut disesalkan pula dalam penyebaran informasi soal insiden tersebut, terdapat sejumlah pihak yang memperkeruh suasana, dengan memperbesar sentimen keagamaan. Apalagi kemudian menghasut dengan pendekatan ‘mayoritas vs minoritas’. Kurangnya informasi yang bisa diakses langsung karena minimnya infrastruktur di wilayah ini membuat berita-berita yang meresahkan tersebut tidak bisa langsung diklarifikasi.

Melihat kejadian tersebut, Jaringan Kerja Antar Umat Beragama (JAKATARUB) menilai adanya provokasi yang dilakukan oleh pihak-pihak yang menginginkan perpecahan terjadi di Tanah Papua dan juga Indonesia, demi menghilangkan narasi damai yang selama ini ada.

Maka terkait kejadian tersebut JAKATARUB menyerukan:

1. Empati yang mendalam atas apa yang dialami umat Muslim di Karubaga, Kab. Tolikara yang terganggu hak asasinya untuk beribadah dan juga menderita secara moril dan materil karena insiden tersebut. Sudah selayaknya setiap warga negara Indonesia dilindungi hak asasinya dimanapun dia berada, apapun yang menjadi agama, suku, ras dan latar belakangnya.

2. Seruan tegas pada aparat Pemerintah Daerah Kab. Tolikara dan Pemerintah Provinsi Papua agar mengusut tuntas dan menindak tegas provokator serta pelaku insiden ini serta memberikan jaminan perlindungan kepada semua warganya, agar dapat menjalankan hak-hak asasinya, termasuk hak untuk beribadah.

3. Seruan tegas pada Pemerintah Pusat RI, agar lebih lagi dalam usahanya memajukan pembangunan dan menyelesaikan konflik di wilayah Papua dengan keberpihakan pada masyarakat Papua. Agar insiden ini tidak dimanfaatkan oleh pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab demi mengeruk keuntungan pribadi atau golongan dan memecah-belah kerukunan bangsa.

4. Himbauan kritis pada setiap elemen dan tokoh masyarakat Indonesia agar berhati-hati dalam menyampaikan informasi yang belum jelas kebenarannya dan berpotensi memicu sentimen keagamaan.

5. Kesadaran agar tiap elemen masyarakat kembali ke jati diri asali bangsa kita yang menghargai keberagaman dan toleransi.
Toleransi adalah perihal kesetaraan setiap warga negara, bukan perkara ‘hadiah-kebaikan’ kaum mayoritas terhadap minoritas atau sikap ‘mengalah tahu-diri’ minoritas terhadap kelompok mayoritas. Narasi dan pola pikir ‘mayoritas vs minoritas’ seperti itu adalah penghambat toleransi yang sejati. Maka dari itu Jaringan ini mengajak agar semua masyarakat mengamalkan toleransi dalam konteks kesetaraan.
[Lihat juga pemaknaan toleransi dalam Deklarasi Prinsip-prinsip Toleransi 1995 http://www.unesco.org/webworld/peace_library/UNESCO/HRIGHTS/124-129.HTM]

Demikian pernyataan ini kami sampaikan sebagai bentuk kepedulian dan rasa sepenanggungan kami, secara khusus pada rekan-rekan Muslim di Kab. Tolikara, Papua.

Teriring ucapan selamat dan doa di hari yang Fitri ini.

Bandung 17 Juli 2015

Wawan Gunawan
Koordinator Jaringan Kerja Antar Umat Beragama (JAKATARUB)
+62 821-1650-5100