10
MAY
2015

Oleh-oleh dari Colloqium Religiosum

Malam itu, seorang bapak berkacamata duduk di hadapan puluhan peserta Simposium Nasional Dialog Agama (Colloqium Religiosum). Selama dua jam, ia menyampaikan materi dengan tema Kaitan Agama dan Kemanusiaan Serta Problematikanya Kini.Ia adalah Prof. Dr. I. Bambang Sugiharto.
Tidak hanya beliau, acara itu juga diisi oleh dua pemateri lainnya, yakni Alfathri Adlin dan Dr. Haryatmoko, S. J. Mereka berdua mengunggah materi mengenai Humanisme dalam Islam: Tantangannya Kini, dan Mengenali Sisi-sisi Kemanusiaan dalam Agama.
Selama tiga hari (1-3/5), kami, sejumlah pengurus JAKATARUB turut mengikuti kegiatan yang diselenggarakan di Fakultas Filsafat Universitas Katolik Parahyangan tersebut, dengan maksud hendak membagikan pengalaman di lapangan mengenai bagaimana keberagamaan masyarakat Indonesia, khususnya Jawa Barat.

Simposium Nasional Dialog Agama Menggali Sisi Humanistik Agama

Puluhan peserta yang mengikuti acara ini terdiri dari berbagai kalangan, dari berbagai usia dan dari berbagai agama. Semua mencari pemahaman yang sama, yaitu ingin mengetahui sisi-sisi kemanusiaan dalam agama, agar tercipta kehidupan beragama yang lebih baik lagi di Indonesia.
Saya menilai, acara ini penting dilaksanakan, mengingat masih banyak konflik yang terjadi di Indonesia yang didasari oleh perbedaan agama. Melalui acara ini, kami diberikan kesadaran tentang hal apa yang bisa membuat kita bersatu, meskipun memiliki keyakinan keagamaan yang berbeda.

Salah satu solusi yang ditawarkan untuk menghadapi perbedaan adalah melalui seni, melalui keindahan, melalui hal yang dapat membangkitkan sisi kemanusiaan kita. Karenanya, acara ini dimeriahkan oleh sesi pentas seni yang para pementasnya juga merupakan peserta simposium. Di hari kedua, kami pun diajak menikmati kesenian sunda di Saung Angklung Udjo.Melalui kegiatan tersebut, timbul kesimpulan bahwa seni memang merupakan salah satu cara yang akan menciptakan keberagamaan yang lebih humanis.

Selain itu, setelah berlangsungnya acara tersebut, saya menyadari bahwa beragama tidak hanya sekedar tentang manusia dan Tuhan, tetapi juga tentang manusia dengan manusia lainnya.
JAKATARUB pun telah lama menyadari hal ini. Maka, setiap 16 November yang juga merupakan hari toleransi Internasional, komunitas ini mengadakan acara bertajuk BALAD (Bandung Lautan Damai). Acara ini menyuarakan keberagaman melalui kesenian dan berbagai kegiatan sosial.

Simposium Nasional Dialog Agama Menggali Sisi Humanistik Agama Simposium Nasional Dialog Agama Menggali Sisi Humanistik Agama

“Agama kita memang berbeda, namun sisi kemanusiaan kita tetap sama”
(Oleh: Astri Oktia)