31
OCT
2016

Narasi Baru bagi Indonesia

Peserta YIC dari berbagai latar belakang

Peserta YIC dari berbagai latar belakang

Toleransi beragama karenanya berarti menghormati sesama manusia dalam keseluruhan adanya. Memandang kehidupan rohani orang lain sebagai hak pribadinya yang tidak dapat diganggu gugat atau dikendalikan dari luar.” (Ahmad Wahib).

Pergolakan batin seorang pemuda tentang jati diri dan kondisi lingkungan keberagamaan dituturkan Ahmad Wahibdalam catatan hariannya yang kemudian diterbitkan dalam bentuk buku berjudul Pergolakan Pemikiran Islam. Pergolakan ini masih terus tumbuh di kalangan pemuda Indoensia meski sudah empat puluh tahun sejak catatan harian tersebut ditulis. Bagaimana tidak, sekat-sekat antar kelompok umat beragama semakin menjulang tinggi setiap tahunnya, hal ini dibuktikan dengan tingkat intoleransi bergama di berbagai daerah Indonesia yang mengalami kenaikan secara signifikan.

Kondisi inilah yang kemudian mendorong Jakatarub bekerjasama dengan Sinode Gereja Kristen Pasundan (GKP), Gereja Kristen Indonesia (GKI) Klasis Bandung, Gereja Kristen Jawa (GKJ) Bandung, Keuskupan Bandung, Universitas Kristen Maranatha, dan Mission 21 Bassel menyelenggarakan Youth Interfaith Camp (YIC) pada 21-23 Oktober 2016 di Wisma Shalom, Bandung. Acara yang berlangsung selama tiga hari ini menjadi wadah bagi para pemuda dari berbagai latar belakang agama berbeda untuk bertemu, berdiskusi, dan mengatasi prasangka-prasangka yang selama ini terbangun karena adanya sekat-sekat tersebut.
Tema “Merajut Cerita Baru Indonesia” dipilih sebagai tema acara tahun ini. YIC sendiri sudah diadakan sebanyak enam kali, sejak tahun 2005. Menurut Pdt. Obertina M. Johanis, yang kerap disapa Bu Obe, meski YIC pertama berlangsung pada tahun 2005, namun sempat mengalami kevakuman dan mulai diadakan lagi pada tahun 2013. Bedanya pada tahun 2013, panitia lebih fokus untuk mengumpulkan peserta-peserta muda, pelajar atau mahasiswa. Selain jumlah peserta yang semakin bertambah setiap tahunnya, YIC juga semakin banyak didukung oleh berbagai lembaga.

Merajut Cerita Baru

Merajut Cerita Baru

Acara hari pertama diawali dengan Kafe Religi, di mana ada 10 pos yang masing-masing ditempati oleh perwakilan sembilan agama baik itu agama wahyu maupun agama lokal, yaitu Islam (Sunni, Ahmadiyah), Kristen (Katolik, Protestan, Ortodoks), Khonghucu, Buddha, Taoisme, Sikh, Hindu, Penghayat, Bahai, dan satu pos merupakan pos Non-Believer. Tanya jawab antara peserta dan narasumber berjalan dengan hangat. Setelah sesi pengenalan, peserta diberi kesempatan untuk mengajukan pertanyaan.

Sesi ini disambut dengan antusias, dari total 12 orang setiap kelompok ada 3-4 orang yang bertanya. Namun waktu yang diberikan hanya 20 menit setiap pos, tidak memungkinkan semua pertanyaan dapat terjawab. Dalam momen yang langka ini, peserta memang didorong untuk tidak ragu menanyakan prasangka-prasangka yang pernah ada atau pandangan-padangan tertentu mengenai agama atau keyakinan tersebut.

Nishal Dillon, pemateri Kafe Religi Sikh mengaku pertama kalinya mengikuti acara lintas iman. Menurut perempuan yang saat ini bekerja sebagai dokter di salah satu rumah sakit swasta Jakarta, ruang bertemu bagi kelompok dari berbagai latarbelakang agama berbeda berguna untuk mendapatkan inforamasi sebanyak-banyaknya.

Kita sebenarnya kekurangan informasi, jadi begitu ada informasi negatif ga ada tempat buat ngecek. Padahal kalau kita punya cukup informasi, kita jadi punya lebih banyak pilihan,” ungkap dokter kelahiran Medan ini. Postur tubuh Nishal yang tinggi, berambut hitam pekat dengan hidung mancung dengan jelas menampakkan asal usulnya sebagai keturunan India.

Hal ini diakuinya, Nisha bercerita bahwa Kakeknya datang ke Indonesia dari India pada masa zaman Belanda bersama dengan keluarga besarnya untuk mencari kerja. Sejak itu, keluarga Nishal memutuskan untuk menetap di Indonesia. Tak heran jika berkunjung ke Medan, kita bisa menjumpai sebuah perkampungan yang terkenal dengan nama “Kampung Keling.”

Selama bertahun-tahun, Kampung Keling dikenal warga Medan sebagai permukiman komunitas Sikh India. Meskipun Sikh telah ada di Indonesia sejak zaman Belanda, pengetahuan orang Indonesia mengenai Sikh masih tergolong minim. Ini tercermin dari pertanyaan-pertanyaan yang diajukan oleh peserta. Bagi Nishal pertanyaan “Apa yang disembah?” terasa aneh. Hal ini berkaitan dengan kepercayaan Sikh yang menganggap bahwa dunia diciptakan oleh satu pencipta “Ek Onkar” (Satu Tuhan).

Ada pertanyaan yang aneh bagi saya, tapi ini mungkin karena mereka punya konsep agama yang berbeda,” ungkapnya.

Pertemuan ini menciptakan pengalaman dan cerita baru bagi Nishal. Cerita-cerita baru yang juga akan dirajut oleh para pemuda-pemuda Indonesia. Seperti yang dikatakan oleh Pdt Albertus Patty bahwa hidup selalu dipenuhi oleh cerita. Ada cerita baik dan ada juga cerita buruk. Tinggal kita yang memilih apakah memilih cerita buruk dan membenci orang yang berbeda, atau memilih untuk menciptakan cerita baru hidup dalam kerukunan dan perdamaian.

Namun memang untuk menciptakan cerita perdamaian tidaklah mudah. Ada tantangan yang harus dihadapi oleh setiap duta perdamaian. Tantangan pertama biasanya datang dari lingkungan terdekat. Wawan Gunawan menceritakan ketika ia dan teman-temannya pertama kali menggagas gerakan lintas iman, tantangan paling berat diterima dari orang-orang terdekat.

Tantangan cerita tentang toleransi bukan hanya teoritis ya, tapi praktis terjadi dalam keseharian,” ujar Wawan.

Selain tantangan internal, ada juga tantangan eksternal. Tantangan ini muncul akibat reproduksi cerita buruk yang pernah dialami oleh sekelompok orang. Mohammad Miqdad, Direktur Institut Titian Perdamaian membagikan pengalamannya terkait konflik Tolikara Papua yang kerap dikaitkan dengan isu agama. Miqdad melakukukan kunjungan ke masyarakat Kristen di Papua, ia menanyakan apakah masyarakat Kristen keberatan dengan pembangunan rumah ibadah.
“Lalu mereka mengatakan kami (masyarakat Papua Kristen) tidak keberatan dengan pembangunan gereja Islam (mesjid), yang keberatan itu orang-orang dari luar,” cerita Miqdad.

Pertanyaan baru muncul, kenapa ada orang luar yang menolak dan siapakah orang luar itu? Ternyata orang dari luar yang dimaksud oleh penduduk adalah para mahasiswa Kristen yang kuliah di luar Papua dan pernah jadi korban penutupan gereja.

Jadi ini adalah lanjutan kebencian, dan rantai ini harus diputus,” tambahnya.

Dalam melakukan pemetaan terhadap konflik atas nama agama, memang harus melihat dengan frame yang lebih luas. Ada banyak faktor yang menyebabkan terjadinya konflik dan menciptakan cerita-cerita buruk yang terus direproduksi dan pada akhirnya berujung pada perpecahan.

Padahal menurut Wawan, Indonesia dibangun oleh darah dan keringat orang-orang dari berbagai suku agama ras dan menjadikan Indonesia sebagai negara kesatuan. Karena itu, penting kiranya untuk menjaga perdamaian antar kelompok suku, ras, dan agama dengan cara menjaga ruh Pancasila dalam kehidupan keseharian.

Setelah mendapatkan “suntikan” ilmu dari ketiga pembicara, serta mengalami pertemuan dan diskusi langsung dengan berbagai pemeluk agama berbeda di Kafe Religi, para peserta juga dibawa untuk berkunjung ke berbagai rumah ibadah di Bandung. Dimulai dari kunjungan ke Gereja Santo Ignatius, Mesjid An-Nasir, Kung Miao, Tao Kwan Sinar Mulia, Vihara Dharma Ramsi, Kelenteng Besar, Gereja Kristen Pasundan (GKP) dan Gereja Kristen Indonesia (GKI).

Tidak sedikit peserta yang mengaku baru pertama kali menginjakkan kaki di rumah ibadah yang berbeda dengan keyakinannya, misalnya saja Yunus, mahasiswa semester lima di sebuah universitas negeri di Bandung. Baginya, berkunjung ke berbagai rumah ibadah dapat memperkaya pengalamannya dalam memahami sekaligus menghormati perbedaan.
Sayangnya tidak semua orang mendapat kesempatan untuk mengkonfirmasi prasangka yang dimilikinya seperti Yunus. Selama ini, hasil persepsi seseorang kerap terbentuk dari informasi sumber sekunder, bisa itu dari keluarga, teman, guru, atau media. Sebagai perpanjangan tangan masyarakat, media memainkan peranan penting dalam pembentukan persepsi publik. Media dapat menjadi senjata untuk mengawal perdamaian atau sebaliknya menyebabkan perselisihan.

Rio Tuasikal, seorang Jurnalis, membagi pengalamannya sebagai awak media dalam mengkampanyekan perdamaian. Sesi pengenalan jurnalisme damai ini sekaligus menjadi sesi penutupan dari rangkaian kegiatan YIC 2016.