18
MAY
2016

Mengenang Sosok Johannes Leimena

Leimena01

Bandung (14/05) – Sosok pahlawan yang memiliki integritas dan komitmen tinggi bagi NKRI melekat pada diri Dr. Johannes Leimena. Banyak gagasan beliau yang masih relevan hingga saat ini. Karena itulah, Majelis Sinode GKP, bekerja sama dengan Yayasan Badan Rumah Sakit-GKP, Institut Leimena dan JAKATARUB, mengadakan Seminar Mengenang Dr. Johannes Leimena pada Sabtu (14/05) di Aula Agape, R.S Immanuel Bandung.

PAHLAWAN-JOHANNES-LEIMENADokter berdarah Ambon ini dikenal lewat karya-karya dan perjuangannya bagi Indonesia dengan mengedepankan sisi toleransi bagi masyarakat Indonesia yang beragam. Meskipun sudah lebih dari 39 tahun wafat, Dr. Johannes Leimena terus menginspirasi melalui karya dan pemikirannya. Lahir di Ambon pada 6 Maret 1905, Leimena yang berasal dari keluarga melek pendidikan memutuskan untuk ikut pamannya ke pulau Jawa, meskipun sempat dilarang oleh ibunya. Keputusannya inilah yang mengantarkannya pada sekolah kedokteran (STOVIA).

Sifat bersahaja dan kompetensi Leimena menjadikannya tokoh negarawan di Indonesia. Tak hanya sebagai seorang dokter, Leimena aktif di berbagai organisasi politik. Ia termasuk pendiri dan ketua Jong Ambon, serta pendiri dan ketua Partai Kristen Indonesia (PARKINDO).  Kiprahnya di bidang politik dan dedikasinya sebagai dokter inilah yang mengantarkannya pada kedudukan sebagai Menteri Muda Kesehatan (1946-1947), Menteri Kesehatan (1947-1953 dan 1955-1956), dan beberapa kali mendapat kehormatan menjadi pejabat presiden serta berbagai jabatan lainnya.

Menurut Wawan Gunawan, Koordinator JAKATARUB yang juga menarik dari sosok Leimena meskipun berprofesi sebagai dokter profesional ia juga tidak melupakan  masalah sosial di sekitarnya, tidak hanya sempit di bidang ilmu teknis yang ditekuni. Wawan juga menyayangkan ketika kita berbicara tentang tokoh seperti Leimena kita serasa tokoh asing. Padahal kiprah Leimena amat luas, salah satunya adalah sebagai pengagas konsep PUKSESMAS di Indonesia. Leimena turut andil mendorong terciptanya rasa kebangsaan Indonesia.

Berkaca dari pribadi Leimena yang berasal dari kelompok yang dianggap minoritas di Indonesia, menurut Wawan, sebenarnya istilah minoritas dan mayoritas yang kerap didegungkan dan digunakan untuk menjelaskan kelompok-kelompok masyarakat di Indonesia saat ini sudah  tidak relevan digunakan karena pada dasarnya semua adalah warga negara Indonesia.

Wacana minoritas mayoritas tidak relevan karena Indonesia lahir dari karya bersama. Indonesia juga tegak oleh kebaikan bersama. Kalau mau dan rasional bisa saja daerah-daerah di Indionesia misalnya Indonesia bagian timur bikin  negara sendiri, Bali bikin negara sendiri, tapi kita punya komitmen. Makanya kalau sekarang ada gerakan makar dan berupaya melepaskan komitmen sebagai satu Indonesia, itu berarti ia mengkhianati sejarahnya sendiri,” ungkap Wawan.

Komitmen inilah yang kemudian melahirkan tokoh-tokoh penuh gagasan kebangsaan seberti Leimena. Salah satu yang menjadi gagasan Leimena yang mengikat persaudaraan antar suku, agama, dan latar belakang kebudayaan di Indonesia adalah konsep relasi antar manusia. Pdt. Wahju S. Wibowo dari Gereja Kristen Pasundan, menjelaskan bahwa hukum memiliki kekuatan untuk mendorong masyarakat, namun yang lebih kuat adalah relasi. Ketika dalam diri manusia ada pengasihan, timbul relasi antar manusia massa yang oleh Leimena disebut sebagai gemeenschap (persekutuan), yang kemudian menjadi faktor penting dalam pembentukan kepribadian seseorang.

Bagi Wahju, yang dimaksud Leimena tersebut adalah seseorang dapat muncul menjadi dirinya sendiri, saat ia ada dalam persekutuan dengan orang lain. Misalnya orang Islam muncul sebagai diri sendiri, orang kristen sebagai diri sendiri, justru saat mereka berjumpa dalam gemeenschaap itu, tanpa merasa enggan mengakui identitasnya dan identitas sesamanya yang berbeda. Tugas negara adalah  mempertahankan dan melindungi warga negaranya supaya ia dapat tumbuh sebagai suatu pribadi. Sehingga hukum tatanan legal di dorong untuk melindungi pribadi tersebut.

Orang dapat menjadi suatu pribadi kalau dia punya kebebasan, kemerdekaan, diperlakukan adil, dan berada dalam suasana damai sehingga memiliki jiwa yang juga sehat,” ujar Wahju.

Cerita menarik lain dipaparkan oleh putri ketiga Dr Leimena, Catharina Wiriadinata Leimena, yang turut hadir dalam Seminar ini.  Chatarina bercerita tentang hubungan antara Johannes Leimena dengan sang istri R. Tjitjih Wiyarsih Leimena. Pasangan yang berasal dari latar belakang suku dan budaya yang berbeda Leimena dari Ambon dan Tjitjih dari Sumedang. Mereka pertama kali bertemu di RS Immanuel ketika Leimena bekerja sebagai dokter dan Tjitjih sebagai kepala asrama perawat.

Sebagai ibu rumah tangga, Tjitjih kerap menghabiskan waktunya dengan memasak untuk keluarga. Om Jo, panggilan akrab Leimena kemudian meminta Tjitjih untuk mempekerjakan asisten rumah tangga dan menghabiskan waktunya lebih banyak dengan membaca buku.
Membaca buku merupakan cara Papa dan Mama berdialog dalam rumah tangga,” ungkap Catharina.

Anak keempat, Adrianus Djauhar D. Leimena, menceritakan pengalaman masa kecilnya. Ketika itu keluarga Leimena tinggal di Tangerang dan di depan rumahnya terdapat mesjid. Djauhar sering menghabiskan waktunya bermain di pekarang mesjid dengan anak-anak kompleks. Dia kerap mendengarkan pengajian yang diadakan di mesjid bagi anak-anak. Djauhar kemudian menanyakan apakah ia boleh mengikuti pengajian tersebut dan Leimena yang juga seorang Kristen yang taat mengizinkan Djauhar untuk belajar, tanpa khawatir iman anaknya goyah.

Ada pelajaran mengaji dan saya minta izin ke papa apakah saya boleh ikut pelajaran ngaji dan dibolehkan. Beliau begitu percaya pada kekuatan iman, jadi sejak kecil kita dibolehkan bergaul dengan siapa saja,” papar Djauhar mengenang Leimena, sosok yang terus membekas di hatinya.