25
FEB
2015

Dr. Paul Marshall: Manfaat Kebebasan Beragama dan Bahaya Pembatasan Keagamaan

Dr. Paul Marshall, Senior Fellow dari Hudson Institute dan Institut Leimena, peneliti kawakan terkait Religious Freedom, bertemu muka dengan Keluarga Besar JAKATARUB dan mendiskusikan manfaat dari kebebasan beragama (religious freedom) dan bahaya dari tekanan/batasan keagamaan (religious restriction).

Manfaat Kebebasan Beragama dan Bahaya Pembatasan Keagamaan

Dunia saat ini mengalami tekanan dan konflik terkait agama yang semakin membesar dan semakin meluas. Dari 24% negara/wilayah di tahun 2007 menjadi 47% di tahun 2012. Hampir sepertiga penduduk dunia mengalami penindasan keagamaan. Hal ini sudah harusnya menjadi kesadaran global.

Dr. Marshall menyampaikan bahwa religious restriction selain dari sudah buruk pada hakikatnya ternyata sangat mempengaruhi aspek-aspek lain dari hidup kemanusiaan. Dari data sepanjang 2007-2012 diperoleh kesimpulan bahwa di negara-negara dengan tingkat pembatasan/tekanan keagamaan tinggi cenderung mengalami kemunduran/ketertinggalan ekonomi (hilangnya investasi, inovasi dan kreativitas), menurunnya human capital dan social capital.

Kemajuan ekonomi memang tidak sepenuhnya ditentukan oleh kebebasan dan keterbukaan agama, namun keterbukaan ini menjadi salah satu faktor paling penting bagi kemajuan. Di sisi lain tingkat pemberdayaan perempuan (pendapatan perempuan, peran perempuan di parlemen, dll) juga meningkat seiring keterbukaan beragama.

Manfaat Kebebasan Beragama dan Bahaya Pembatasan Keagamaan

Pemerintah negara yang melakukan religious restriction sering berargumen bahwa pembatasan keagamaaan adalah salah satu sarana untuk mencegah konflik sosial, namun kenyataannya konflik dan perpecahan sosial justru semakin meluas seiring meningkatnya pembatasan keagamaan.

Penelitian Dr. Marshall secara khusus di negara dengan penduduk mayoritas Muslim, meninggalkan hal yang unik, bahwa negara yang relatif terbuka dalam kebebasan beragama justru mengindikasikan kesalehan yang lebih tinggi dalam praktik keagamaan Islam.

Keluarga Besar JAKATARUB kemudian berdiskusi terkait relevansi penelitian tersebut dengan apa yang dialami dan dirasakan di Bandung dan Indonesia. Beberapa pertanyaan mengkritisi dan memperkaya temuan tersebut. Semoga kita semakin ditajamkan dalam gerak bersama.

(ARMS)