16
MAY
2016

Dialog: Cara Jakatarub Membangun Persahabatan

dialog-cara-jakatarub-membangun-persahambatan  

Kalau ketemu orang beragama lain takut buat ngobrol agama, takutnya tersinggung, soalnya agama kan sensitif…

Demikian jawaban dari Stella (19), mahasiswi di salah satu universitas swasta di Bandung ketika ditanyakan apakah pernah membicarakan agama dengan orang dari latar belakang agama berbeda. Isu agama tak jarang mencuat di antara masyarakat baik dalam skala besar hingga menimbulkan konflik berkepanjangan seperti di Ambon, maupun masalah sehari-hari yang dianggap sepele namun bila dibiarkan bisa memetik perseteruan bahkan memakan korban.

Hal ini dapat terjadi apabila umat beragama menganggap bahwa perbedaan atau keunikan suatu agama bukan hal yang wajar dan merasa tidak perlu mengakui ajaran agama lain. Bahkan pada tahapan yang lebih ekstrim, ketika kelompok tersebut menginginkan keberadaan agama lain dimusnahkan karena dianggap salah. Dalam kondisi ini, muncul rasa kebencian yang mempertajam kesalahpahaman, sehingga menciptakan batas-batas pemisah antar manusia. Pertanyaan yang muncul kemudian, apakah benar bahwa perbedaan dan keunikan ajaran agama menjadi sumber konflik? Pertanyaan ini mendorong Bonifatius Haryo Wicaksono untuk mendalami kasus beragaman dalam penelitian disertasinya yang diberi judul “Jaringan Kerja Antar Umat Beragama (JAKATARUB) Dilihat dari Perspektif Ajaran Gereja Katolik.”

jakatarub.org

Frater Boni, demikian ia kerap disapa, mempresentasikan hasil penelelitian magisternya dalam forum yang diadakan oleh Orang Muda Katolik (OMK) bertempat di Gedung Dewan Karya Pastoral Keuskupan Bandung, pada Minggu (3/04). Acara yang berlangsung dari pukul 10.00 pagi ini mengulas mengenai komunitas JAKATARUB yang sudah 15 tahun aktif dalam isu toleransi antar-umat beragama di wilayah Bandung dan sekitarnya.

Dalam perjalanannya, JAKATARUB tak jarang menemukan berbagai tantangan baik dari internal komunitas maupun dari pihak eskternal. Salah satu tantangan dari pihak eksternal bisa muncul dari kelompok fundamentalis agama yang menganggap dialog sebagai hal yang berbahaya. Menurut Clara, pengurus JAKATARUB, meskipun sebenarnya berjumlah sedikit, orang-orang radikal bersuara lebih vokal dan bergerak dalam kelompok yang terlihat masif.

Tantangan lainnya muncul ketika masyarakat menganggap daerah tempat tinggalnya dalam hal ini Jawa Barat “baik-baik saja” sehingga tidak memerlukan adanya dialog lintas iman. Hal ini bertentangan dengan catatan dari Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) yang menyebutkan Jawa barat sebagai daerah dengan angka intoleransi terbesar di Indonesia.

Namun, karena JAKATARUB bukan organisasi LSM, maka jaringan ini memiliki kekuatan unik yang bersumber dari orang-orang yang menjadi relawan atas inisiatif sendiri. Hal ini menjadikan JAKATARUB sebagai komunitas bersama dan tidak bersifat eksklusif.

Jakatarub bukanlah lembaga atau organisasi di bawah naungan salah satu agama, negara maupun kelompok apapun. Posisinya yang cair dan independen memungkinkan dirinya tidak dipengaruhi secara dominan oleh kelompok manapun,” ungkap Bonifatius dalam tesisnya tersebut.

Hal senada juga dijelaskan oleh Sekretaris Jakatarub, Risdo Simangunsong saat menjawab pertanyaan salah satu peserta yang menanyakan apakah Jakatarub akan melembagakan dirinya dalam bentuk LSM. “Jakatarub adalah sebuah jaringan dan tidak akan menjadi LSM supaya rasa memiliki dimiliki semua,” ungkapnya.

Meski demikian JAKATARUB tidak menutup diri dalam bermitra dan berelasi, sebaliknya memiliki beberapa relasi interdependen secara informal dengan beberapa lembaga keagamaan. Mengapa tidak semua lembaga keagamaan, mengapa hanya beberapa agama keagamaan? Hal ini dikarenakan tidak semua lembaga keagamaan mau menjalin kejasama, bahkan ada beberapa yang menolak bekerjasama.

Kondisi ini tidak sejalan dengan visi misi jaringan yang mengedepankan dialog sebagai jembatan penghubung antar kelompok umat beragama maupun tidak beragama. Karena itulah, menurut Frater Boni, seberapa besar pun usaha membangun jembatan dialog, jika salah satu lembaga keagamaan menolak kerjasama, dialog tidak akan terjadi secara institusional. Namun, bukan berarti ruang berdialog tertutup, karena meskipun tidak terjalin kerjasama secara formal, ruang dialog informal tetap terbuka.Cara-jakatarub-membangun-persahabatan

 

Dialog tetap dapat berlangsung secara informal dan personal, di mana anggota dari lembaga tersebut berpartisipasi dalam kegiatan JAKATARUB,” terang Frater Boni.

Perjalanan JAKATARUB selama bertahun-tahun memang tidak dapat terlepas dari berbagai rintangan dan membutuhkan proses terus menerus untuk berakar. Frater Boni mengibaratkannya seperti tumbuhan yang akarnya tumbuh dan secara perlahan merambah bahkan bisa memecahkan batu. Saat bersamaan dahan dan ranting dari tumbuhan ini menaungi jutaan makhluk hidup beragam di bawahnya.