03
MAR
2016

Tak Hanya Bulan Cinta, Februari juga dikenal Sebagai Bulan Perdamaian

Worfd-interfaith-harmony-week-jakatarub

“ Justru agama-agama itu membela kemanusiaan maka orang-orang yang beragama seharusnya orang yang pertama-tama membela kemanusiaan.” Uskup Mgr. Antonius Subianto

Siang menjelang sore, suasana kota yang sejuk mulai terasa karena udara yang mendung di sekitaran Jalan Ambon, Bandung. Di ujung jalan, berdiri sebuah bangunan yang sepintas terlihat seperti rumah dengan pagar merah dan halaman berumput hijau.
Bangunan tersebut terlihat ramai dipenuhi anak-anak. Mereka berbaris didampingi para guru dan perempuan-perempuan dengan rok putih. Ternyata mereka adalah suster biarawati, dan bangunan berlantai tiga itu merupakan asrama kesusteran atau dikenal dengan sebutan Religieuses du Sacré Coeur de Jésus (RSCJ).
Jangan bayangkan tempat ini sepi, karena pada hari Senin (29/2) ini, RSCJ sedang mendapat banyak tamu. Mulai dari anak-anak TK, SD, SMP, SMA, mahasiswa hingga pemuka agama.

Kunjungan tersebut bukan tanpa sebab, sebagai bentuk dukungan terhadap World Interfaith Harmony Week (WIHW) yang dicetuskan PBB, jurusan Religious Studies UIN Bandung bekerjasama dengan RSCJ dan beberapa komunitas di Bandung seperti Forum Lintas Agama Deklarasi Sancang (FLADS) dan Jaringan Kerja Antar Umat Beragama (Jakatarub), berinisiatif mengadakan acara yang dirangkai dalam tiga kegiatan.
Kegiatan pertama merupakan acara diskusi buku berjudul Kultur Islam Indonesia dan dilanjutkan dengan acara nonton film serta diskusi bersama pemuka agama pada hari yang berbeda. Kegiatan terakhir adalah doa bersama dari para peserta yang memiliki latar belakang berbeda, seperti usia, agama, dan suku.

Dalam ruangan putih itu, suasana syahdu mulai terasa. Kanan kiri dinding ruangan tersebut ditempelkan bendera-bendera yang memuat simbol-simbol agama mulai dari agama Sikh, Kristen, Islam, Buddha, Yahudi, Hindu dan lainnya. Sebelum memulai doa bersama, seorang suster memberikan penjelasan singkat tentang pentingnya perdamaian. Setelah itu, slide berisi kegiatan manusia dari beraneka ragam suku bangsa dan agama di tampilkan diiringi musik khas agama-agama tersebut.

World-interfaith-harmony-week-RscjKeringat terlihat mengalir tipis di wajah putih seorang siswa kala proses berdoa berlangsung. Walaupun harus duduk berdempetan, mereka terlihat larut dalam memanjatkan doa. August, siswa kelas tujuh SMPK BPK Penabur Bandung merupakan salah seorang siswa yang hadir di acara doa bersama. Usai berdoa ia mengaku merasa menjadi lebih mengenal kondisi dunia, begitu juga dengan Adriel yang semakin menyadari pentingnya perdamaian bagi dunia. Pendapat kedua siswa SMP ini ternyata sejalan dengan yang disampaikan oleh Bambang Q-Anees, Ketua Prodi Pasca Sarjana Jurusan Religious Studies di UIN Bandung. Masalah perdamaian menjadi kajian penting di prodi Religious Studies. Menurut Bambang, gagasan tersebutlah yang mendorong ia dan para pegiat acara melaksanakan kegiatan ini dan menjadikan Februari sebagai bulan perdamaian antar umat beragama.

Tak cukup dengan sebutan bulan kasih sayang, Februari juga digadang-gadang oleh PBB sebagai bulan perdamaian antar umat beragama. Hal ini tercermin dari gagasan PBB yang mengusulkan minggu perdamaian antar agama (WIHW) yang dilaksanakan dari tanggal satu hingga tujuh Februari setiap tahunnya. Berikut penjelasan Sekretaris Jenderal PBB, Ban Ki-Moon mengenai WIHW:

“World Interfaith Harmony Week celebrates the principles of tolerance and respect for the other that are deeply rooted in the world’s major religions. The observance is also a summons to solidarity in the face of those who spread misunderstanding and mistrust.”

Resolusi PBB bernomor A/RES/65/5 yang disetujui sejak tanggal 20 Oktober 2010 ini bertujuan untuk membangun atmosfir saling percaya dan terciptanya dialog antar umat beragama yang dianggap sebagai dimensi budaya yang penting dalam membangun WIHW. Selain itu WIWH juga diharapkan dapat menjadi jalan dalam mempromosikan harmoni dalam masyarakat global terlepas dari iman mereka.

Aksi damai ini digelar di berbagai negara mulai dari negara-negara di Afrika seperti Nairobi, Malawi, Kamerun, serta negara di benua Asia seperti Pakistan, termasuk juga Indonesia.
Secara menyeluruh WIHW mencoba menjangkau dunia dengan membawa misi perdamaian antar umat beragama yang diwakili oleh lembaga PBB yang dinamakan United Religion Initiative (URI). Di Bandung sendiri, acara dalam memperingati WIHW ini baru pertama kali digelar.

“Acara seperti ini merupakan bentuk investasi perdamaian, bahwa gagasan damai adalah gagasan yang asik, menarik dan harus dilestarikan, kalau sudah ada konflik tak ada yang bisa kita lakukan”, ungkap Bambang ketika menjelaskan tujuan dari dilaksanakannya acara doa bersama.

Bambang sendiri memiliki mimpi agar Bandung dapat menjadi panutan dalam kehidupan yang damai dalam perbedaan dan menjadi contoh bagi kota lain. Ia optimis, meskipun Jawa Barat masih bertengger di posisi puncak sebagai provinsi dengan angka intoleransi tertinggi di Indonesia, kondisi bisa berubah dimulai dari kota Bandung sebagai pelopor perdamaian.

Uskup-Bandung-Word-interfaith-harmony-weekHal serupa juga disampaikan oleh Uskup Keuskupan Bandung, Mgr. Antonius Subianto Bunjamin usai menghadiri acara doa bersama. Uskup kelahiran Bandung 14 Februari 1968 memandang Bandung sebagai kota yang minim konflik. Namun tindakan mencegah tetap perlu dilakukan agar tidak terjadi konflik atau kerusuhan di masa yang akan datang. Sementara itu, ketika ditanya tentang tanggapannya mengenai perbedaan agama yang kerap dituding sebagai penyebab konflik antar manusia, Mgr. Anton menjawab:

“ Justru agama-agama itu membela kemanusiaan maka orang-orang yang beragama seharusnya orang yang pertama-tama membela kemanusiaan.”

 

Oleh Fairuz Rana Ulfah
Penyunting akhir: Arom