Anjangsana

anjangsana-cover


Berapa banyak ruang perjumpaan keberagaman tumbuh di masyarakat kita?

Tim Bandung Lautan Damai (BALAD) mendiskusikan pertanyaan itu saat mencoba meramu beberapa kegiatan bertema toleransi dan keberagaman, yang bisa diterima secara populer.

Awalnya kami merasa ruang itu sebenarnya cukup banyak. Apalagi di wilayah seperti Kota Bandung. Di masyarakat perkotaan, umumnya interaksi antar banyak individu adalah hal yang niscaya terjadi. Ada banyak orang di jalan, sekolah, pusat perbelanjaan, tempat kerja, ruang publik dan banyak tempat lain, yang akan kita temui setiap harinya. Jelas, mereka berasal dari berbagai latar agama, suku, ras, status sosial dan seabrek identitas lain.

Tapi kami lantas mulai memikirikan fenomena lain.

Fasilitator sedang bercengkerama dengan siswa-siswi peserta Anjangsana 2015.

Fasilitator sedang bercengkerama dengan siswa-siswi peserta Anjangsana 2015.

Seorang anak yang berasal dari keluarga Muslim. Ia kemudian bersekolah di sekolah modern yang berazaskan Islam. Lalu berkuliah di kampus swasta yang juga bercorak Islami. Atau kemudian aktif di kegiatan-kegiatan internal keagamaan Islam. Berapa banyak ia bertemu dan bersahabat dengan rekannya yang berbeda agama? Hal yang sama juga terjadi misalnya dengan rekan-rekannya yang Kristiani. Sekolah di sekolah Kristen, lalu hanya aktif di kegiatan pelayanan Kristiani. Rekan-rekannya yang Hindu, Buddhis, Khong Hu Cu, Penghayat atau agama lain pun seringkali tidak mengenal dan dikenali sebagai mana identitasnya…

Harus diakui, kehidupan masyarakat kota yang meski amat beragam, justru memberi peluang untuk pengotakan dan eksklusivisme. Kita mungkin bertemu banyak orang yang berbeda dalam banyak urusan sesuai kepentingan, tapi hanya sedikit yang menjadi sahabat tulus dalam keseharian. Eksklusivisme beragama semakin menguat, mulai dari masa kini hingga di masa depan yang akan direguk-selami oleh generasi selanjutnya. Situasi yang rentan bagi munculnya prasangka buruk, ekstrimisme dalam beragama serta ketidakpedulian atau malah kebencian akan yang lain.

Seorang siswi Kristiani sedang berinteraksi dengan siswi-siswi Muslim saat <i>event</i> Anjangsana 2016.

Seorang siswi Kristiani sedang berinteraksi dengan siswi-siswi Muslim saat event Anjangsana 2016.

Lantas bagaimana? Kami meyakini, kita perlu sesekali keluar melampaui kotak-kotak itu. Kita harus memberi katalis, agar ada ruang-ruang perjumpaan yang mungkin di masyarakat sekarang ini. Terutama buat generasi muda.

Di situlah muncul ide program Anjangsana. Kegiatan yang menyasar anak usia sekolah itu bertujuan mempertemukan anak-anak dari sekolah yang berbeda latar (sekolah Islam, sekolah Kristen, sekolah umum) dalam satu momen perjumpaan. Momen dimana mereka bebas berinteraksi, dengan menyadari rekan yang di sisinya berasal dari identitas yang berbeda. Momen dimana identitas dengan bebas diekspresikan dalam harmoni.

Fasilitator sedang menanggapi pertanyaan jenaka seorang siswa saat <i>event</i> Anjangsana 2015.

Fasilitator sedang menanggapi pertanyaan jenaka seorang siswa saat event Anjangsana 2015.

Mulanya mungkin canggung. Namun, perlahan anak dari beragam latar agama ini justru menikmati dan merayakan perjumpaan. Biasanya, di akhir kegiatan mereka diminta untuk menghasilkan semacam mural atau karya bersama. Sebagai pengingat buat mereka, agar momen perjumpaan itu terus dipelihara dan dikembangkan dalam keseharian. Juga, sebagai seruan pengajak bagi sekolah-sekolah lain untuk terlibat bersama membuka ruang perjumpaan keberagaman seperti ini.

Tim BALAD begitu terkesima melihat respon antusias dari sekolah-sekolah yang telah terlibat. Bahkan meski sebagian besar baru pertama kali melakukan hal seperti ini. Lebih terkesima lagi saat kami semua menyaksikan betapa anak-anak muda ini justru dengan penuh semangat dan kreativisme merayakan perjumpaan dalam perbedaan. Anjangsana hanyalah pemicu, sebab cinta kasih akan semua insan, ternyata muncul dengan alami saat ruang perjumpaan dibuka…


  • Dokumentasi Anjangsana 2015

    Bandung, 9 November 2015.
    Kunjungan ke SD Kristen Yahya.
    Peserta tamu: SD Muthahari.

  • Dokumentasi Anjangsana 2016

    Bandung, 24 November 2016.
    Kunjungan ke Pondok Pesantren Al-Quran Babussalam.
    Peserta tamu: SD Kristen Yahya, SMP BPK Penabur, dan SMP Bahtera.

 

Bagi sekolah-sekolah atau pihak-pihak yang ingin terlibat atau membutuhkan informasi event Anjangsana dapat menghubungi 087812283718 (William) atau lewat fanpage fb/BdgLautanDamai (Facebook), @BdgLautanDamai (Twitter), atau @BdgLautanDamai (Instagram).